Pada sepeda motor diklaim mampu meminimalkan
kecelakaan. Oleh sebab itu, Kementerian Perhubungan Indonesia (Kemenhub) ingin
seluruh motor yang dijual memiliki fitur tersebut.
.Sistem rem ABS dipasang supaya
pada saat ngerem mendadak motor tidak selip atau ngepot. Terlebih ketika
jalanan basah ataupun licin. "ABS ini
berfungsi ketika pengendara melakukan pengereman mendadak dan licin. Pada medan
licin sekalipun, pengereman tetap optimal serta tidak selip.
Ketika sepeda motor berjalan maka
speed sensor akan membaca keepatan baik roda depan maupun belakang. "Nah
saat kecepatan ada yang tidak sama, maka akan diinformasikan ke ECU. Dari situ,
nanti dibawa ke modulator. ECU nantinya akan menghidupkan solenoid.
"Tekanan fluida pada kaliper
dikurangi, dipertahankan, dan naik kembali. Karena jika salah satu antara roda
depan dan belakang berbeda kecepatannya, maka akan terjadi selip. Jadi si ECU
ini akan menyesuaikan agar terjadi pengereman. ABS, membantu supaya roda tidak
lock ketika pengereman terjadi (kecepatan roda depan dan belakang sama).
Dalam pengereman ada tiga proses.
"Pada saat menekan tuas rem, otomatis tekanan fluida ke kaliper itu kuat
sekali sebab putaran roda masih sangat kencang. Begitu putaran roda sama, maka
tekanan fluida itu dipertahankan sampai motor berhenti.
Ketika putaran roda masih
kencang, tekanan fluida tadi akan mencengkeram lagi. "Jadi sederhananya
seperti itu.
"Jadi seberapa penting motor kecil pakai ABS? Sekarang itu motor kecil
sudah kencang-kencang, ada yang kecepatannya sampai 100 km/jam. Nah ketika
ngerem, motor akan selip. Jadi ABS ini menjaga supaya pengereman optimal (tidak
mengunci roda),"
Komponen Rem ABS dan Gangguan
pada Rem ABS
Sistem pengereman Anti-lock
Braking System (ABS) JIka diartikan secara harfiah adalah rem anti-terkunci.
Artinya, sebuah teknologi sistem pengereman pada motor agar tidak terjadi
penguncian roda ketika dilakukan pengereman mendadak (panic brake), yang
biasanya pengendara akan menginjak atau menarik rem secara keras hingga mentok.
Teknologi sistem pengereman ABS
bekerja berdasarkan data sensor ABS yang letaknya berada di dekat bidang
pengereman. Ketika sensor ABS tersebut mendeteksi ada roda yang mengunci,
secara otomatis sensor tersebut akan mengirimkan sinyal ke modulator yang
kemudian berfungsi untuk memerintahkan piston rem untuk mengendurkan tekanan
fluida atau minyak rem dari kaliper dalam kondisi tertentu. Sebaliknya, tekanan
akan kembal naik dan normal ketika penguncian berkurang. Proses pengurangan,
penahanan, dan peningkatan tekanan fuida ini berlangsung sangat cepat, sekitar
15-50 kali per detik sehingga roda tidak akan terkunci saat terjadi pengereman
mendadak. Sistem pengereman ABS memiliki beberapa komponen penting. Berikut
beberapa komponen pada sistem rem ABS.
Komponen Rem ABS Motor
1. Wheel Speed Sensor
Wheel speed sensor berfungsi
untuk mendeteksi kecepatan roda dan mendeteksi terjadinya slip pada roda kendaraan.
Saat terjadi pengereman akan dikonfirmasikan ke ABS control modul kemudian akan
dilakukan pengereman. Wheel speed sensor terdiri atas sensor dan rotor.
Di dalam sensor terdapat magnet
yang menghasilkan garis gaya magnet dan pada rotor terdapat roda gigi. Saat
rotor berputar, roda gigi yang berputar memotong garis gaya magnet sehingga
menghasilkan gaya induksi elektromotif bolak-balik sesuai dengan kecepatan
rotor. Oleh sensor, gaya induksi elektromotif bolak-balik ini diubah menjadi
sinyal gelombang sinus tegangan kemudian dikirimkan ke ABS Control Modul.
2. ABS Control Modul
ABS Control Modul adalah unit
yang memproses semua sensor untuk mengendalikan kerja sistem rem ABS dengan
cara mengatur kerja setiap solenoid yang ada di dalam hydraulic unit. Berikut
ini beberapa fungsi ABS Control Modul.
a) Fungsi Self
Diagnosis
Fungsi self
diagnosis adalah fungsi untuk mendiagnosis sistem dan komponen rem pada
berbagai kondisi dan hasilnya diinformasikan dalam DTC dengan penyalaan lampu
peringatan ABS.
b) Fungsi
Fail-Safe
Fungsi
fail-safe adalah fungsi keamanan di mana jika terjadi masalah pada fungsi ABS,
sistem ABS akan off dan sistem rem akan kembali pada sistem rem konvensional
(tanpa ABS)
c) Sirkuit
Pembentuk Gelombang
Sirkuit
pembentuk gelombang mengubah sinyal output dari wheel speed sensor berupa
gelombang sinus (analog) yang frekuensinya berubah-ubah berdasarkan perubahan
kecepatan roda menjadi sinyal pulsa (digital) sehingga dapat diproses oleh
microcomputer.
d)
Microcomputer Unit (MCU)
Microcomputer
Unit (MCU) mendeteksi kecepatan roda, percepatan atau perlambatan kecepatan
roda, dan kecepatan kendaraan sesuai dengan sinyal digital yang dikirim dari
sirkuit pembentuk gelombang sehingga kondisi slip kendaraan dapat dideteksi
setiap waktu.
1)
Saat perlambatan kecepatan roda menurun drastis
hingga di bawah kecepatan yang ditentukan, MCU menentukan angka slip tinggi dan
mengirim sinyal untuk menahan atau mengurangi tekanan rem.
2)
Sebaliknya, saat percepatan kecepatan roda
meningkat hingga pada batas yang telah ditentukan, MCU menentukan angka slip
rendah mengirim sinyal untuk menaikkan tekanan rem.
e) Sirkuit
Solenoid Control
Sirkuit ini
menggunakan power transistor dan mengontrol arus yang mengalir ke solenoid
valve di dalam hydraulic unit.
f) Sirkuit
Fail-Safe
Sirkuit ini
memonitor kerja dari sensor, solenoid, dan ABS control modul. Apabila terdapat
unit atau sistem yang tidak berfungsi, sirkuit akan menghentikan kerja dari
semua solenoid dan motor, sistem rem akan berfungsi secara konvensional, serta
lampu peringatan ABS pada panel instrumen akan menyala.
3. Hydraulic Unit
Hydraulic unit terdiri atas
solenoid valve, pompa, reservoir, accumulator. Solenoid
valve mengubah posisi anchor berdasarkan output dari ABS control modul.
a) Saat
sirkuit penghasil tekanan terbentuk, minyak rem dalam caliper atau wheel
cylinder mengalir menuju ke reservoir dan tekanan rem menurun. Pompa
mengalirkan minyak rem ke accumulator di mana tersimpan minyak rem yang
bertekanan tinggi, sebelum dikembalikan ke master cylinder.
c) Saat
sirkuit penahan tekanan terbentuk, saluran kaliper terputus dan tekanan minyak
dalam kaliper dijaga agar konsisten.
c) Saat
sirkuit peningkatan terbentuk, minyak rem yang bertekanan tinggi pada
accumulator diteruskan ke kaliper. Jika tekanan minyak rem dalam accumulator
belum tinggi, tekanan minyak rem dalam kaliper sama dengan tekanan minyak rem
pada master cylinder.




0 Komentar